Thursday, November 06, 2008

MENGAPA KEINTIMAN HILANG SETELAH PERNIKAHAN?

Kejadian 1: 26; 2: 24

Pertanyaan di atas sungguh sangat akrab di telinga kita. Tidak jarang pasangan nikah mengeluhkan hal demikian, bahkan mungkin kita pun juga. Seorang istri berkata, “Selama menikah dengan suamiku 10 tahun lamanya, aku merasa kalau aku ini tidak bersuami. Banyak hal aku kerjakan sendirian, tanpa suamiku. Kering rasanya. Tapi kalau untuk orang lain, ia sangat hebat.” Di kesempatan lain, seorang suami berkata, “Pak, saya ini sudah menikah lebih dari 20 tahun, tapi pernikahanku tidak pernah bahagia. Sejak awal menikah. Bayangkan, Pak!” Kemanakah keintiman itu terbang setelah menikah sekian lama?

Apa yang menyebabkan keintiman itu hilang? Hal-hal penyebabnya antara lain: Pertama, waktu bersama-sama yang terhilang. Dalam zaman yang makin sibuk, kita sering mengkambinghitamkan kesibukan sebagai alasan untuk tidak berduaan dengan pasangan kita. Kalau istri meminta waktu untuk bicara bersama-sama di kamar, maka suami berkata, “Sebentar, saya sedang sibuk. Saya lelah. Saya perlu tidur, bukan bicara-bicara, karena besok harus bangun dan kerja kembali.” Sebaliknya, bila suami mengajak istri untuk menemaninya ke suatu tempat, istri berkata, “Kamu pergi sendirian saja, kan di sana saya tidak ngapa-ngapain. Saya masih punya banyak urusan di rumah. Anak-anak sendirian. Kasihan.” Selalu saja ada alasan untuk tidak berduaan dengan pasangan kita. Inilah yang menyebabkan keintiman akan runtuh perlahan-lahan.

Tony dan Laura (nama-nama samaran) adalah pasangan suami-istri yang cerdas dan masih muda. Usia mereka menjelang 30 tahun. Keduanya lulusan perguruan tinggi dan memiliki karier yang bagus. Tony bekerja di sebuah firma hukum sedangkan Laura bekerja di departemen sumber daya manusia. Waktu berlalu, dan anak pertama mereka lahir. Laura pun memutuskan untuk berhenti bekerja demi merawat anaknya.

Karena masalah ekonomi yang terjadi, Tony bekerja keras. Ia sibuk memperjuangkan berbagai kasus dan belajar memenangkan kasus terus-menerus. Hidupnya banyak di kantor, dan kalaupun pulang ke rumah ia membawa pekerjaan kantor yang belum selesai. Sementara itu, Laura mengganti popok, kurang tidur, berusaha tetap ramping dan segar, pergi ke swalayan untuk membeli susu bayi, serta aktif pelayanan di gereja. Tidak kalah sibuknya dengan Tony.

Singkatnya, mereka akhir-akhir ini sering bertengkar. Mereka berkata bahwa mereka sudah tidak saling menyukai kepada konselornya. Tony menyalahkan Laura karena selalu kelelahan dan mengomel, Laura pun menyerang Tony karena tidak membantu pekerjaan rumah tangga. Apa penyebabnya? Setelah diselidiki, penyebabnya adalah karena mereka tidak pernah meluangkan waktu bersama-sama sejak anak pertamanya lahir. Mengetahui itu, maka konselornya meminta mereka untuk kembali menemukan waktu bersama-sama, yang tanpa ada gangguan dari pihak lain, termasuk dari anak-anak.

Kita perlu menemukan waktu bersama-sama dengan pasangan yang mungkin selama ini sudah terhilang sekian lama. Waktu bersama-sama tentu tidak harus artinya kita mengobrol di kamar, tapi bisa juga kita melakukan kegiatan bersama, seperti berenang, makan, menonton film/bioskop, dan sebagainya. Yang terpenting adalah kita meluangkan waktu, bukan menyisakan waktu. Ambillah kesepakatan dengan pasangan kita untuk menemukan dan menentukan waktu tertentu yang tidak boleh diganggu gugat oleh siapapun.

Kedua, harapan yang tidak realistis. Setiap pasangan pasti membawa segudang harapan ke dalam pernikahannya. Dan biasanya, harapan-harapan itu berasal dari pembentukan di masa lalu serta segala pengalaman dalam hidupnya. Nah masalah baru akan terjadi bila kedua pasangan memiliki harapan-harapan yang tidak realistis. Harapan yang tidak realistis sudah tentu akan membuahkan tuntutan yang tidak realistis pula pada lawan pasangan. Sekali tidak tercapai, maka ia akan marah, kecewa, atau membencinya. Akhirnya, dampak seperti inilah yang meruntuhkan bangunan keintiman sebuah pernikahan.

Ada beberapa mitos seputar pernikahan yang seringkali membentuk harapan yang tidak realistis, misalnya: (1) Pernikahan akan mencukupi semua kebutuhanku. Tidak jarang orang berpikir bahwa hidupnya akan terasa sempurna atau terpuaskan dengan pernikahan. Akhrinya, pasangan yang termakan mitos ini akan menuntut lawan pasangannya untuk senantiasa memenuhi kebutuhan pribadinya. Jika tidak terpenuhi, maka ia akan marah dan kecewa. (2) Cinta romantis harus selalu ada setiap waktu dalam pernikahan. Mungkin kita berpikir bahwa setiap hari pasangan nikah seharusnya selalu mesra, selalu berkata “I love you”, sering memeluk, dan seterusnya. Padahal, cinta romantis itu bersifat tidak konstan, up and down. Apa sebabnya? Karena cinta romantis merupakan cinta emosional. (3) Pasangan nikah adalah sahabat satu-satunya. Sebagian pasangan nikah sering berpikir bahwa setelah menikah maka sahabat satu-satunya adalah sang suami atau sang istrinya. Meski secara teoritis orang tidak menyetujuinya, tapi toh saya beberapa kali menjumpai kasus yang demikian. Bila kita termakan mitos ini, maka tentunya tidak heran bila kita akan kecewa bila pasangan kita memiliki sahabat-sahabat yang lain. (4) Kepuasan seksual menjadi salah satu indikator penting dalam pernikahan yang bahagia. Banyak sekali literatur psikologi atau seputar pernikahan yang menyebutkan tentang berapa kali pasangan nikah perlu mengadakan hubungan seksual. Mereka berasumsi bahwa seks merupakan faktor esensial untuk memperkuat keintiman. Sebab itu, mereka menganjurkan para pasangan nikah untuk melakukan hubungan seks sesering mungkin. Seorang konselor Kristen asal Singapura, Anthony Yeo, mengatakan bahwa pendapat itu tidak selalu benar. Di dalam kenyataan ini, ada sebagian pasangan yang memiliki pernikahan bahagia meski tidak melakukan hubungan seksual yang sering. Sebaliknya, mungkin pula ada sebagian pasangan yang sering melakukan hubungan seksual di dalam pernikahan tidak bahagia.

Waspadalah terhadap beberapa mitos pernikahan tadi. Akhirnya, semua berpulang pada kita sendiri. Kitalah yang harus berpikir kritis terhadap segala pendapat di sekeliling kita.

Ketiga, kepercayaan yang terhilang. Mempercayai pasangan adalah salah satu penunjang bangunan keintiman pernikahan. Dalam kasus ekstrim, runtuhnya kepercayaan terhadap lawan pasangan biasanya terjadi ketika ia mengetahui bahwa pasangannya berselingkuh. Perlu diakui bahwa kasus ini seringkali membuat kepercayaan pasangannya runtuh dan hancur berkeping-keping. Akhirnya, tidak heran bila mereka akan mengalami kesulitan yang luar biasa untuk memulihkan keintiman pernikahannya.

Tapi dalam kasus yang biasa, keintiman pernikahan ternyata juga dapat terkikis oleh hal-hal yang tampaknya sederhana. Contohnya: (1) Ketakutan untuk menjadi diri yang apa adanya. Bila dalam pernikahan terdapat salah satu pasangan yang takut untuk menjadi dirinya sendiri, maka itu sudah cukup merobohkan keintiman pernikahan perlahan-lahan. Mengapa? Karena, sehari-hari orang itu akan hidup dalam bayang-bayang ketakutan dimarahi lawan pasangannya bila ia berkata atau berbuat salah. Ia tidak merasa bebas menjadi diri sendiri di hadapan pasangannya. Sudah tentu orang yang memiliki ketakutan seperti ini akan sulit membangun keintiman pernikahannya. (2) Ketakutan untuk “melepaskan” pasangannya. Seorang istri yang sudah menikah belasan tahun bercerita bahwa ia sudah muak dengan perilaku suaminya. Dengan panjang lebar ia menjelaskan bahwa suaminya terlalu posesif, seakan-akan apa yang ia lakukan selalu dimonitor oleh suaminya. Kalau ia pergi dengan teman-teman gereja, maka suami menunjukkan wajahnya yang muram di rumah. Mungkin suami itu memiliki hukum: semakin diikat, pasangannya semakin terikat padanya. Ia memiliki ketakutan untuk “melepaskan” pasangannya bergaul dengan teman-teman lainnya. Apa jadinya? Dalam kenyataannya yang terjadi adalah: semakin diikat, pasangannya justru semakin gerah dan ingin melepaskan diri. Inilah contoh-contoh bentuk kepercayaan yang hilang terhadap pasangan kita.

Untuk memulihkan kepercayaan kita terhadap pasangan atau pasangan terhadap kita, maka kedua pihak perlu membangun kepercayaan sedikit demi sedikit. Kita tidak dapat menumbuhkan kepercayaan dengan paksaan atau ancaman. Ini berarti kita tidak dapat memaksa pasangan untuk cepat mempercayai kita. Apalagi, hal ini akan semakin sulit terjadi bila kita pernah berselingkuh. Tugas kita adalah menabur benih-benih perbuatan yang dapat memulihkan kepercayaan, seperti: kalau sudah berjanji maka kita harus menepatinya, tidak menjadikan pasangan sebagai korban atas kesenangan pribadi, atau memberikan apa yang disukai pasangan (seperti kejutan-kejutan hadiah kecil). Ini bagian yang dapat kita kerjakan, selanjutnya biarkan Tuhan menumbuhkan kepercayaan sesuai dengan waktu-Nya.

Sebagai penutup, saya mau katakan, Allah itu tertarik dengan masalah keintiman. Mau bukti? Kejadian 1: 26 mencatat, “Baiklah Kita menjadikan manusia menurut gambar dan rupa Kita . . .” Perhatikan kata “Kita”. Dunia teologi menggunakan kata “Kita” sebagai salah satu bukti ketritunggalan Allah. Tapi mestinya kita dapat melihat lebih jauh dari sekadar pembuktian rasional. Kata tersebut sesungguhnya menyiratkan soal keintiman. Ketiga pribadi Allah itu bekerja bersama-sama dalam penciptaan. Seolah-olah ketiga pribadi itu bisa menari dalam panggung ciptaan-Nya dengan begitu indahnya. Keintiman ketritunggalan Allah juga pernah digarisbawahi oleh Yesus ketika Ia berkata, “Aku dan Bapa adalah satu.”

Sebab itu, ketika Allah berkata, “. . . seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi satu daging,” maka artinya Allah memanggil pasangan suami-istri untuk memiliki keintiman dalam pernikahan. Dengan kata lain, keintiman adalah tanda sebuah pernikahan yang dimaksud dan diperkenan Allah. Intim tidak berarti kita kehilangan kepribadian yang unik. Intim tidak berarti kita kehilangan identitas. Sama seperti Allah Tritunggal, intim antar suami-istri berarti pribadi-pribadi unik yang sudah dipersatukan Allah itu menari di panggung keluarga dengan harmonis. Mereka tetap berbeda, tapi mereka bisa menari dengan harmonis. Itulah keintiman, dan itulah yang dikehendaki Allah dalam pernikahan kita.

No comments: