Thursday, September 18, 2008

MENEMBUS BATAS

Jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan Nusakambangan, Cilacap, ternyata tidak selamanya menjadi pembatas bagi setiap napi di dalamnya. Kebebasan jiwa tidak selamanya terjajah oleh karena tubuh terkurung dalam penjara angker itu. Bahkan bukan hanya kebebasan jiwa, tetapi kesaksian hidup pun juga tidak selamanya mampu terbendung oleh ganasnya LP Nusakambangan. Hal ini telah dibuktikan oleh seorang terpidana mati yang bernama Okuludili Ayatanza, dari Nigeria.

Di balik jeruji itu, Ayatanza justru membuat 21 lagu rohani. Kesaksian hidupnya pun juga tidak hanya tercermin dari 21 lagu rohani saja, tetapi kesaksian hidupnya juga dirasakan oleh teman-teman napi lainnya. Memang benar bahwa Ayatanza akhirnya harus menutup usianya dengan eksekusi, tetapi yang pasti kesaksian hidup Ayatanza sebagai murid Kristus tidak pernah tereksekusi. Meski dibatasi oleh jeruji besi penjara, tetapi kesaksian hidupnya telah menembus batas. Kapankah kita bisa memiliki kesaksian hidup yang menembus batas?

Tuhan Yesus dengan jelas menggambarkan bahwa orang Kristen layaknya seekor domba yang sengaja dihadirkan di kawanan serigala. Konteks menjelaskan bahwa serigala-serigala itu adalah penganiaya-penganiaya para murid Kristus. Mereka akan menyerahkan para murid Kristus kepada majelis agama, digiring ke hadapan para penguasa dan raja. Intinya, para penganiaya itu akan giat untuk memberikan tekanan-tekanan jasmaniah dan batiniah kepada pengikut Kristus.

Inilah kondisi yang tidak dapat dihindari oleh para pengikut Kristus. Sebab itu, Tuhan mengingatkan kepada kedua belas murid-Nya untuk berlaku cerdik seperti ular tetapi tetap tulus seperti merpati (Matius 10: 16). Untuk apa toh Tuhan Yesus mengingatkan hal ini? Agar setiap murid-Nya dapat memiliki kesaksian hidup yang menembus batas. Okay memang mereka dihadirkan dalam batas-batas tekanan hidup, tetapi mereka tidak boleh menyerah oleh batas-batas itu.

Dan bukankah Yesus sendiri pernah menyodorkan diri-Nya sebagai contoh untuk menjelaskan maksud tadi? Yesus paham sekali bahwa ketika Ia hadir di dunia, maka dunia pasti menolak diri-Nya. Yesus paham sekali bahwa ketika Ia berbuat baik kepada orang, maka justru orang tersebut yang mengkhianati diri-Nya. Yesus paham sekali bahwa sampai pun Ia sudah membentangkan tangan-Nya untuk dipaku, Ia akan mendapatkan ejekan-ejekan dari para penonton-Nya. Kurang apa lagi?

Namun apakah seluruh tekanan-tekanan itu berhasil membatasi kesaksian hidup-Nya? Jelas tidak sama sekali! Sampai saat ini kesaksian hidup Yesus tetap menjadi panutan seluruh orang Kristen dan orang-orang non Kristen sekalipun (spt. Mahatma Gandhi). Inilah yang saya maksud dengan kesaksian hidup yang menembus batas. Boleh jadi hidup sarat dengan tekanan-tekanan hidup yang tak terduga, tetapi jangan sampai kesaksian hidup sebagai seorang pengikut Kristus menjadi terbatasi.

Apakah saat ini kita sedang terbatasi oleh batas-batas tekanan hidup yang dialami? Bisa jadi tekanan hidup itu berupa kondisi tubuh kita. Kadangkala kita menjadi mudah tersinggung dan marah bila kita sedang sakit flu. Bagaimana kalau terserang kanker ya? Atau mungkin kondisi sakit hati sedang menjadi batas bagi kesaksian hidup kita. Masing-masing kita memiliki perasaan yang dapat terluka. Tetapi apakah perasaan terluka dapat menyetir lidah kita untuk berkata-kata kasar terhadap orang yang menyakiti kita? Adakah kondisi-kondisi lain yang sedang membatasi kesaksian hidup kita?

Kisah singkat alm. Pdt. Eka Darmaputera akan menutup renungan saya. Selama kurang lebih 21 tahun Pdt. Eka hidup bersama-sama dengan kanker hati. Tahun demi tahun berjalan tidak membuat beliau makin sehat, tetapi membuat beliau semakin mendekati di penghujung jalan kehidupan. Tetapi apakah kanker hati itu membuat dia menyerah? Tidak! Selagi ia masih dapat berkhotbah, ia tetap berkhotbah dengan berapi-api bagaikan orang yang sehat. Dengan mata kepala saya sendiri, saya pun pernah melihat bagaimana Pak Eka berjalan dengan tegap dan wajah yang optimis.

Ketika ia sangat lemah dan terbaring di ranjang, ia tetap menulis. Dan salah satu tulisannya berbunyi demikian, “ . . . ketika tangan dan upaya manusia tak lagi mampu melakukan apa-apa yang bermakna, kita bersyukur karena bagi orang beriman selalu ada yang amat berarti yang dapat dilakukan.” Demikianlah sebuah kesaksian hidup yang menembus batas. Kawan-kawan seperjuanganku, marilah kita berjuang untuk menembus batas-batas dalam kehidupan kita. Amin.

No comments: