Monday, October 22, 2007

MELEPASKAN APA YANG KITA KASIHI

1 Samuel 1: 11, 27-28

Kehilangan apa yang kita kasihi adalah satu hal yang sangat menakutkan dan memukul hati kita. Seorang teman SMA saya pernah menangis sejadi-jadinya gara-gara anjing kesayangannya tertabrak kereta api sehingga tubuhnya terbelah menjadi tiga bagian. Istri saya, sewaktu di SAAT, juga pernah menangisi anjing kesayangannya yang raib dan sampai sekarang tidak pernah diketahui keberadaannya. Orang tidak bisa berkata, “Walah, wong anjing saja kok nangis.” Orang itu bisa berkata demikian karena kemungkinan besar binatang anjing yang ditangisi itu bukanlah apa yang dia kasihi. Coba kalau dia kehilangan apa yang dia kasihi, dia juga pasti menangisinya. Jadi, kalau kita kehilangan apa yang kita kasihi tentu akan sangat menyakitkan hati kita. Bukankah ini sangat manusiawi sekali?

Sekarang cobalah untuk diam sejenak. Saya izinkan Anda untuk merenungkan kehilangan apa saja yang Anda takuti selama satu menit. Kita semua pasti punya ketakutan akan kehilangan-kehilangan tertentu. Bisa jadi kehilangan materi, kehilangan binatang kesayangan, kehilangan kesehatan, kehilangan orang, dan seterusnya. Silakan menderet kehilangan-kehilangan yang Anda takuti.

Nah setelah kita menderet kehilangan-kehilangan itu, sekarang coba pikirkan, bila Tuhan bertanya, “Hai _________ (nama Anda), maukah engkau melepaskan satu per satu hal-hal yang ada dalam deretan itu demi Aku?” Bila Tuhan menginginkan agar kita melepaskan apa yang kita kasihi itu, maka apa reaksi atau respons kita?

Hana yang ada dalam kisah 1 Samuel melakukan hal ini. Ia melepaskan apa yang dia kasihi. Apa yang dia kasihi? Yang dia kasihi adalah putera pertama dari anak pertama yang dinamakan Samuel. Hana pasti sangat mengasihi Samuel karena ia adalah anak yang sangat diharap-harapkan sekian lama. Anak yang lahir di tengah-tengah caci maki masyarakat, dan bahkan oleh Penina, istri kedua dari suaminya. Anak yang lahir dengan penuh cucuran air mata dan doa. Sebab itu, saya yakin, ketika Tuhan mengaruniakan Samuel, Hana pasti akan sangat bergembira, hatinya melonjak-lonjak kegirangan, dan ia pasti sangat mengasihi Samuel.

Tapi saya kagum terhadap Hana. Ia tidak lupa akan janjinya kepada Tuhan. Ia pernah berjanji, “Tuhan, kalau Engkau mengaruniakan seorang anak laki-laki, maka aku akan mempersembahkan dia kepada Engkau untuk seumur hidupnya.” Yang saya kagumi di sini adalah bukan karena ia menepati janjinya, tetapi karena ia berani melepaskan apa yang ia kasihi. Hana berkata, “Untuk mendapat anak inilah aku berdoa, dan Tuhan telah memberikan kepadaku, apa yang kuminta dari pada-Nya. Maka aku pun menyerahkannya kepada Tuhan; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada Tuhan” (ay. 27-28). Kata-kata “terserahlah ia kiranya kepada Tuhan” jelas-jelas menunjukkan keberaniannya untuk melepaskan apa yang ia kasihi. Keberaniannya untuk melepas apa yang ia kasihi inilah yang membuat saya mengaguminya.

Bila Tuhan menantang kita untuk melepaskan apa yang kita kasihi demi kemuliaan-Nya, maukah kita melepaskannya? Apa yang membuat kita mengalami kesulitan untuk melepaskan apa yang kita kasihi bagi Tuhan? (1) Bisa jadi karena kita berpikir bahwa hal-hal yang kita kasihi itu berasal dari perjuangan kita. Satu ketika ada seorang ayah dikabarkan meninggal secara mendadak. Tahukah penyebabnya? Karena ia baru saja mendengar bahwa perusahaan yang dijalankan anaknya mengalami kebangkrutan sehingga perusahaan itu harus ditutup. Ayah ini mungkin merasa sangat kecewa karena perusahaan yang selama ini dirintis selama masa mudanya akhirnya harus berakhir di tangan anaknya. Bukankah kita bisa menjadi seperti seorang ayah tadi? Mungkin kita pikir bahwa hal-hal yang kita genggam dan kita kasihi itu berasal dari kita. Sebab itu, kita tidak rela melepaskannya untuk Tuhan. (2) Bisa jadi karena pengaruh budaya. Budaya memuaskan pelanggan misalnya. Ketika kita, sebagai pelanggan tidak dipuaskan, maka kita mudah complaint, mudah marah, mudah kecewa. Kita lebih senang untuk mendapatkan servis yang memuaskan. Memang hal ini ada baiknya. Tapi ada pula sisi buruknya. Apa itu? Budaya memuaskan pelanggan akhirnya mengajarkan bahwa kita adalah raja yang perlu dilayani dan mendapatkan banyak hal. Nah itulah sebabnya, ketika Tuhan meminta kita untuk melepaskan apa yang kita kasihi, maka kita akan merasa tidak puas dan akhirnya kita tidak mau melepaskannya. Bukankah budaya-budaya di sekitar kita seringkali memengaruhi hubungan kita dengan Tuhan?

Tapi puji Tuhan, hari ini kita kembali disegarkan agar kita bisa menjadi seperti Hana yang berani melepaskan apa yang ia kasihi. Sering kita mendengar khotbah-khotbah yang mengatakan “persembahkanlah hidupmu”. Ketika kita ingin belajar untuk melakukan persembahan hidup, Tuhan bisa saja berbisik kepada kita, “Anakku, coba lepaskan satu hal yang engkau kasihi itu kepada-Ku?” Mampukah kita berkata, “Ya Tuhan, Tuhan yang memberi, Tuhan pula yang mengambil?”

No comments: