Tuesday, March 13, 2007

MENGAKUI KEUNIKAN SENDIRI: RESEP PERNIKAHAN YANG SEHAT 1

Kidung Agung 1
“Memang hitam aku, tetapi cantik . . .” (Kid. 1:5a)

Mengakui keunikan diri sendiri ternyata tidak semudah membalikkan telapak tangan kita. Kita sering terperangkap dengan keunikan orang lain sehingga kita menjadi ingin seperti dia sepenuhnya. Dari cara bicara, cara berjalan, cara duduk, cara memegang tas, cara berdandan, menjadi pusat perhatian dan pusat “teladan” kita. Kita bermimpi “andai saya seperti dia”. Lalu apakah ini berarti kita tidak boleh meneladani sikap tertentu dari orang lain? Jelas boleh, namun penekanan saya sejak tadi adalah: kita jangan menjadi orang yang “kehilangan identitas” sehingga kita mudah meniru figur-figur tertentu yang kita sukai. Kita juga harus mengakui keunikan kita sendiri.

Lihatlah keyakinan diri dari seorang mempelai perempuan dalam Kidung Agung 1, khususnya ayat 5. Dalam ayat tersebut, kita dapat memperkirakan bahwa warna kulit dari perempuan tersebut adalah hitam. Dan bila kita memerhatikan bagaimana ia menjelaskan tentang warna kulitnya (ay. 5-6), maka kita dapat menyimpulkan bahwa warna kulit hitam adalah warna yang kurang disukai oleh masyarakat pada zaman itu. Namun hal yang menarik dari mempelai tersebut adalah ketika ia menegaskan kecantikan dirinya. Mempelai ini sadar bahwa dirinya hitam dan kurang disukai oleh masyarakat, namun ia juga sadar bahwa dirinya cantik. Ia mengakui apa yang menjadi kelebihan dan kelemahannya. Singkatnya, ia mengakui keunikan dirinya sendiri.

Saya percaya bahwa pernikahan yang sehat akan terjadi bila masing-masing pasangan sadar dan berani mengakui keunikan dirinya sendiri. Dari pengalaman konseling pernikahan seringkali membuktikan bahwa konflik suami-isteri disebabkan karena pasangan tidak dapat mengakui keunikan dirinya sendiri. Bila pasangan hanya mengakui kelemahannya saja, maka ia akan menjadi “pembantu” terhadap pasangan lawannya. Sebaliknya, bila ia hanya mengakui kelebihannya saja, maka ia akan menjadi “bos” atas pasangan lawannya. Kedua hal ini sama-sama tidak baik karena kedua hal ini akan merontokkan sebuah pernikahan. Yang baik adalah orang tersebut dapat mengakui kelemahan dan kelebihannya dalam porsi yang bijaksana. Inilah salah satu resep pernikahan yang sehat.

Identitas diri kita bukan didasarkan atas keunikan orang lain, melainkan karena keunikan diri sendiri

No comments: